TOBOALI,MERCUSUAR.NET,- Ironis wajah investasi di Kabupaten Bangka Selatan.Ketika investasi baru hendak masuk dan akan berjalan muncul persoalan lahan lalu ketika investasi sudah beroperasi atau berjalan timbul persoalan baru yaitu pencemaran lingkungan.
Salah satu masyarakat Toboali Reza mengatakan kehadiran investor di wilayah ini semestinya membawa manfaat dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Namun kenyataan di lapangan justru dinilai berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,”kata dia kepada wartawan di Toboali,Senin(7/9).
Disampaikannya pemerintah daerah harus lebih serius memastikan setiap investasi yang masuk ke Bangka Selatan ini dan tidak hanya mengejar nilai investasi, tetapi juga menjamin kepastian lahan, perlindungan lingkungan serta kepentingan masyarakat sekitar.
“Contohnya saat ini di Desa Nangka. Investasinya belum berjalan,tetapi sudah timbul berbagai persoalan, mulai dari protes warga soal lahan hingga kepala desa dilaporkan warga dengan berbagai kasus,”katanya.
Menurut Reza bila investasi sudah berjalan maka persoalan yang muncul justru menyangkut pencemaran lingkungan seperti yang terjadi di Desa Pasir Putih dan Desa Payung baru-baru ini.
“Target investasi yang besar seharusnya menjadi kabar baik bagi masyarakat,bukan justru membuka ruang bagi konflik baru,”kata dia.
Ia menilai pernyataan pemerintah mengenai besarnya investasi yang masuk ke Bangka Selatan harus dibarengi dengan pengawasan dan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin muncul.
“Investasi yang disampaikan oleh Kepala Badan Perizinan Terpadu Satu Pintu sebaiknya membawa angin surga buat masyarakat, bukan sebaliknya,”ujarnya.
Reza mengatakan tahun ini investasi yang masuk ke Bangka Selatan ditargetkan mencapai lebih dari Rp1 triliun.Namun besarnya angka tersebut perlu dilihat secara lebih kritis, terutama dari sisi manfaat dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Investasi yang masuk ditargetkan mencapai satu triliun lebih,tetapi dampaknya malah membuat masyarakat sekitar resah,bukan mendapatkan kebahagiaan,” katanya.
Ia juga menyinggung sejumlah persoalan lahan yang hingga kini dinilainya belum sepenuhnya menemukan titik terang.Mulai dari persoalan lahan di Desa Pergam, konflik lahan di Desa Jeriji, hingga polemik di Desa Nangka, Kecamatan Airgegas.
“Belum lama ini di Desa Pergam juga ada permasalahan lahan antara sesama warga yang belum tuntas. Lalu ada Desa Jeriji tentang pembayaran lahan warga serta Desa Nangka yang sampai saat ini belum ada titik terang,”ungkapnya.
Ia menjelaskan persoalan di Desa Nangka menjadi salah satu hal yang patut mendapat perhatian karena kepala desa setempat disebut telah dilaporkan warga ke Polda Kepulauan Bangka Belitung dan Kejaksaan Negeri Bangka Selatan.
“Yang seru itu Desa Nangka Kecamatan Airgegas.Pak Kades dilaporkan oleh warga ke Polda Babel dan Kejari Bangka Selatan,” katanya.
Kendati demikian,Reza menegaskan bahwa laporan tersebut belum berarti pihak yang dilaporkan terbukti melakukan pelanggaran. Proses hukum dan pemeriksaan oleh aparat penegak hukum tetap harus dihormati.
“Walaupun sampai sekarang belum ada kepastian hukum mengenai laporan warga ini, investasi di Bangka Selatan layak ditelusuri lebih jauh oleh pihak yang berwenang,”ujarnya.
Dirinya berharap pemerintah dan pihak terkait menjalankan fungsi pengawasan terhadap berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
“Kalau masalah lahan Desa Nangka itu pernah diselesaikan oleh pihak DPRD Babel namun masih bergejolak lalu Desa Jeriji hingga kini belum ada kepastian sehingga masyarakat yang ada di sekitar investasi justru harus berhadapan dengan persoalan lahan,konflik sosial maupun ancaman terhadap lingkungan,Pemerintah harus hadir sejak awal, bukan setelah masalah timbul,”harapnya. (Tim Mr).






