Di Balik Kelahiran Buku Reklamasi PT.Timah Dengan Luka Tambang Babel

Screenshot 20260623 225839 Facebook

TOBOALI,MERCUSUAR.NET,- Hamparan lubang bekas tambang yang menganga di berbagai sudut Pulau Bangka dan Belitung masih menjadi pemandangan yang sulit diabaikan. Di tengah klaim keberhasilan reklamasi yang disampaikan PT Timah, jejak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan masih terlihat nyata dan menjadi sorotan masyarakat.

Bagi sebagian warga, kondisi Bangka Belitung saat ini ibarat wilayah yang menyimpan luka panjang. Lubang-lubang bekas tambang tersebar di daratan, sementara dampak yang terjadi di perairan dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena tidak mudah terlihat oleh mata.

“Ada yang lebih mengerikan, yaitu lubang dan pencemaran yang terjadi di laut. Itu tidak terlihat oleh mata. Yang kita lihat di darat saja sudah babak belur,” kata Rahman, warga Toboali, kepada wartawan.

Menurut dia, ribuan lubang bekas tambang masih dapat ditemukan dengan mudah di berbagai wilayah Bangka Belitung.

“Pakai Google Maps juga bisa kita lihat. Lubang-lubang itu masih tampak jelas,” ujarnya.

Di tengah kritik dan kekhawatiran masyarakat tersebut, PT Timah menyampaikan berbagai upaya reklamasi yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Perusahaan mengklaim sejumlah lahan bekas tambang telah kembali hijau dan produktif melalui program pemulihan lingkungan yang dijalankan secara berkelanjutan.

Department Head Corporate Communication PT Timah, Anggi Siahaan, mengatakan perjalanan reklamasi perusahaan kini didokumentasikan dalam sebuah buku yang ditulis oleh 17 karyawan yang terlibat langsung dalam program reklamasi dan konservasi lingkungan di wilayah operasional perusahaan.

Menurutnya, buku tersebut menjadi bukti bahwa reklamasi bukanlah pekerjaan singkat, melainkan proses panjang yang membutuhkan kerja keras, inovasi, serta kolaborasi berbagai pihak.

“Buku ini menunjukkan bahwa reklamasi bukan hanya program perusahaan, tetapi sebuah perjalanan panjang yang melibatkan dedikasi banyak pihak dalam memulihkan lingkungan secara berkelanjutan,” kata Anggi.

Ia menambahkan, penerbitan buku tersebut juga bertujuan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat sekaligus media transfer pengetahuan agar pengalaman para pelaksana reklamasi tidak hilang seiring pergantian generasi.

“Perjalanan panjang pemulihan lingkungan tersebut kini terdokumentasi dalam sebuah karya literasi,” ungkapnya.

Di satu sisi, PT Timah menampilkan kisah reklamasi melalui karya literasi dan berbagai program penghijauan. Namun di sisi lain, bentang alam Bangka Belitung yang masih dipenuhi bekas-bekas tambang menjadi pengingat bahwa pemulihan lingkungan merupakan pekerjaan besar yang belum sepenuhnya selesai. Luka lama itu masih tampak jelas, baik di daratan maupun di laut yang menyimpan cerita kerusakan yang tak selalu terlihat di permukaan. (Tim MR)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *