Tokoh Pemuda Lepar Pongok Harap Sepakbola Babel Tetap Bergulir

IMG 20260928 WA0109

TOBOALI,MERCUSUAR.NET,- Salah satu Tokoh Pemuda Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan Manaf berharap liga sepakbola Antar Kampung(Tarkam) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap begulir.

Rencana digelarnya Open Turnamen Sepakbola Penutuk Cup 2026 terancam batal menyusul adanya informasi imbauan agar seluruh liga sepakbola antarkampung (tarkam) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dihentikan sementara pascakerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut memantik kekhawatiran masyarakat. Sebab, bagi warga, tarkam bukan sekadar pertandingan untuk memperebutkan trofi dan hadiah, tetapi juga menjadi ruang berkumpul, bersilaturahmi serta menyalurkan kecintaan terhadap olahraga yang begitu digemari masyarakat.

Manaf mengatakan insiden kerusuhan yang terjadi tidak menjadi alasan untuk mematikan geliat sepakbola di Babel,kerusuhan beberapa waktu lalu semestinya menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bersama, bukan justru membuat dunia sepakbola tarkam berhenti total.

“Kerusuhan yang terjadi beberapa waktu lalu itu sebaiknya dijadikan pelajaran, bukan mematikan dunia olahraga,” kata Manaf kepada wartawan di Toboali,Senin (28/9) malam.

Ia mengungkapkan apabila penghentian sementara tarkam benar-benar diberlakukan, dampaknya cukup besar bagi masyarakat Lepar Pongok yang telah mempersiapkan Open Turnamen Sepakbola Penutuk Cup 2026.

“Walaupun sifatnya hanya sementara, namun dampaknya sangat besar bagi kami warga Lepar Pongok yang akan menggelar Open Turnamen Sepakbola Penutuk Cup 2026 ini,” ujarnya.

Manaf bahkan menyampaikan perumpamaan keras untuk menggambarkan bagaimana seharusnya persoalan kerusuhan dalam pertandingan ditangani.

“Untuk membunuh tikus bukan lumbungnya yang dibakar, tetapi tikusnya yang ditindak tanpa harus membakar lumbungnya,”tegasnya.

Ia menilai persoalan serupa juga seharusnya diterapkan dalam dunia sepakbola. Jika terjadi kerusuhan, menurutnya, pihak yang terlibat harus diamankan dan diproses sesuai aturan yang berlaku, bukan seluruh kompetisi yang harus ikut dihentikan.

“Begitu juga dengan dunia sepakbola. Bila kerusuhan terjadi, bukan liganya yang dihentikan, namun pelakunya diamankan atau diproses sesuai dengan aturan yang berlaku,” katanya.

Menurut Manaf antusiasme terhadap Penutuk Cup 2026 disebut sudah cukup tinggi. Hingga saat ini, sekitar 54 tim telah mendaftarkan diri untuk ambil bagian dalam turnamen tersebut.

Sejumlah tim bahkan telah memastikan diri untuk meramaikan kompetisi, di antaranya Sepakat Putra Desa Kepoh, Sporty Tiram dan Garuda Jeriji. Sementara tim dari Desa Keposang juga direncanakan segera mengikuti technical meeting dalam beberapa minggu mendatang.

“Saat ini sudah ada sekitar 54 tim yang mendaftar dalam turnamen Penutuk Cup ini yang berasal dari beberapa desa di Bangka Selatan,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Manaf berharap sepakbola tarkam di Babel tetap memiliki ruang untuk bergulir dengan pengawasan dan aturan yang lebih tegas.
Baginya, lapangan sepakbola bukan hanya tempat mengejar kemenangan. Di sana, masyarakat dari berbagai desa bertemu, bertanding, saling mengenal dan membangun silaturahmi.

“Semoga olahraga sepakbola yang sangat digemari masyarakat ini tetap bergulir dan menjadi ruang silaturahmi bagi pencinta olahraga,” harapnya. (Tim Mr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *